Selasa, 10 November 2009

Merupakan fakta sejarah jika di awal kekuasaan Harto, kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah digadaikan kepada blok imperialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat.

Ada perbedaan sangat besar terkait pengelolaan kekayaan alam Indonesia di zaman Soekarno dengan zaman Harto dan para pewarisnya. Soekarno bersikap, “Biarkan kekayaan alam kita, hingga insinyur-insinyur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.” Sedangkan Harto dan para pewarisnya hingga sekarang bersikap, “Biarkan kekayaan alam kita dijarah oleh orang-orang asing, silakan Mister…”

Merupakan fakta sejarah jika di awal kekuasaan Harto, kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah digadaikan kepada blok imperialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat. Sebelumnya Harto dan Washington agaknya telah memiliki “MOU” bahwa jika Soekarno berhasil dikudeta maka Harto yang menggantikannya akan “membalas budi” kepada Washington berupa penyerahan negara dan bangsa ini tanpa syarat agar bisa dieksploitasi sepuasnya oleh para tuan bule di Washington.

Tragedi pertemuan Mafia Berkeley dengan Rockefeller dan kawan-kawannya di Jenewa-Swiss di bulan November 1967 menjadi bukti tak terbantahkan tentang permufakatan iblis tersebut. Di saat itulah, rezim Jenderal Harto mencabut kemerdekaan negeri ini dan menjadikan Indonesia kembali sebagai negeri terjajah. Ironisnya, penjajahan asing atas Indonesia diteruskan oleh semua pewarisnya termasuk rezim yang tengah berkuasa hari ini yang ternyata “jauh lebih edan” ketimbang Jenderal Harto dulu.

Sampai sekarang, hampir semua cabang produksi yang amat vital bagi negara dan bangsa ini telah dikuasai asing. Banyak buku yang telah memaparkan dengan jujur kenyataan menyedihkan ini. Beberapa di anaranya adalah buku berjudul “Di Bawah Cengkeraman Asing: Membongkar Akar Persoalannya dan Tawaran Revolusi untuk Menjadi Tuan di Negeri Sendiri” (Wawan Tunggul Alam: 2009), dan “Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!” (Amien Rais, 2008). Dengan bahasa jurnalisme yang sangat mengalir namun amat kaya data, Wawan memaparkan dengan lugas hampir seluruh fakta yang patut diketahui generasi muda bangsa ini, agar kita bisa sadar sesadar-sadarnya jika Indonesia itu, negeri kita ini, sekarang masih merupakan negeri terjajah!

Dan untuk buku yang kedua yang ditulis oleh Amien Rais, isinya benar-benar bagus dan sangat anti dengan neo-liberal. Namun dalam faktanya sangat ironis, karena entah dengan alasan apa, Amien Rais sekarang malah jelas-jelas menjadi bagian dari kelompok NeoLib dengan berterus-terang menyatakan dukungannya pada rezim yang berkuasa sekarang. Disadari atau tidak, dia sekarang telah menjadi part of problem bagi bangsa ini dan menjadi salah satu penghalang bagi gerakan pemerdekaan negeri ini dari cengkeraman imperialisme asing.

Jika Imperialisme dan Kolonialisme Kuno (Spanyol, Portugis, VOC, Fasis Jepang, dan NICA) menggunakan senjata api untuk menjajah suatu negeri, maka sekarang, Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme, Nekolim) lebih pintar dengan tidak lagi memakai senjata api namun mempergunakan kekuatan uang (baca: kekuatan utang).

JFK, CIA, dan Freeport

Di atas telah disebutkan, hanya beberapa bulan setelah secara de-facto berkuasa, Jenderal Harto menggadaikan nyaris seluruh kekayaan alam negeri ini kepada blok imperialisme asing. Salah satu cerita yang paling menyedihkan adalah tentang gunung emas di Papua Barat. Gunung emas yang sekarang secara salah kaprah disebut sebagai Tembagapura, merupakan sebuah gunung dimana cadangan tembaga dan emas berada di atas tanahnya, tersebar dan siap dipungut dalam radius yang amat luas.

Lisa Pease menulis artikel berjudul “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport” dan dimuat dalam majalah Probe. Tulisan bagus ini disimpan di dalam National Archive di Washington DC. Dalam artikelnya, Lisa Pease menulis jika dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada di sekujur Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Piminan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kenndey merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil siap yang bertolak-belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C. Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.

Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital NY di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pimpinan Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi 1 Oktober 1965, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengeksplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasionil mereka.

Sebab itulah, ketika ketika UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport. Inilah kali pertama kontrak perminyakan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport menggandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A. Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki depost terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar pon dan emas sebesar 52,1 juta ons. Nilai jualnya 77 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia.

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru di mana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan langsung mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. “Perampokan legal” ini masih terjadi sampai sekarang.

Kisah Freeport merupakan salah satu dari banyak sekali kisah sedih tentang bagaimana kekayaan alam yang diberikan Allah SWT kepada bangsa Indonesia, oleh para penguasanya malah digadaikan bulat-bulat untuk dirampok imperialisme asing, demi memperkaya diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Kenyataan memilukan ini masih berlangsung sampai sekarang hingga rakyat menjadi sadar dan menumbangkan penguasa korup.

Sabtu, 07 November 2009

Negeri Para Bedebah

Negeri Para Bedebah

karya: Adhie Massardi


Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Minggu, 01 November 2009

Indonesia Di bawah Panji NeoLib

Indonesia Di bawah Panji NeoLib

Kontroversi lainnya adalah rencana kenaikan gaji para pejabat negara, termasuk gaji presiden dan wakilnya, yang diamini oleh hampir semua pejabat terkait, ditengah penderitaan rakyat yang kian hari kian susah dan utang yang menggunung setiap harinya.

Kontroversi menteri kesehatan yang baru, ditambah dengan gagalnya DPR memanggil menteri yang berasal dari eselon dua ini karena “diveto” oleh Ketua DPR Marzuki Alie yang berasal dari kubu SBY sendiri, dimana hal itu dengan sendirinya telah membuktikan tudingan jika untuk lima tahun ke depan DPR akan sekadar menjadi rubber-stamp rezim penguasa, bukan menjadi satu-satunya kontroversi yang ada pada pemerintahan yang baru tapi lama ini.

Kontroversi lainnya adalah rencana kenaikan gaji para pejabat negara, termasuk gaji presiden dan wakilnya, yang diamini oleh hampir semua pejabat terkait, ditengah penderitaan rakyat yang kian hari kian susah dan utang yang menggunung setiap harinya. Lagi-lagi hal ini telah membuktikan jika di negeri ini para pejabat negara bagaikan “Raja Tega” karena sama sekali tidak perduli dan tidak memiliki empati terhadap nasib rakyatnya sendiri.

Semua itu rupanya belum cukup juga. Selain kenaikan gaji, para pejabat negara setingkat menteri ke atas juga akan diberi fasilitas mobil mewah baru yang benar-benar mewah, yakni dengan digantinya Toyota Camry yang selama ini dipergunakan sebagai kendaraan dinas menteri dengan mobil lain yang lebih mahal tiga kali lipatnya, yakni Toyota Crown Majesta. Jika Camry seharga 600 jutaan rupiah perunitnya, maka Majesta di negeri ini membandrol harga 1,8 milyar rupiah perunit karena kena pajak barang mewah. Lagi-lagi uang rakyat dijadikan bancakan para pejabat negara.

Di tengah himbauan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada migas dengan gerakan hijaunya, yang juga menghimbau masyarakat agar beralih ke moda transportasi ramah lingkungan seperti sepeda, tindakan pemerintah itu dengan sendirinya mencederai himbauannya sendiri karena Toyota Crown Majesta dengan tenaga yang sangat besar, cc di atas 3000-an, sudah pasti akan sangat rakus bahan bakar.

Kegilaan para pejabat Indonesia pada mobil dan fasilitas mewah pernah menjadi ironis ketika dalam satu kesempatan, salah satu menteri ekonomi Indonesia berada di Jepang untuk menegosiasi pinjaman kepada pejabat terkait metahari terbit itu. Pejabat ini akan bertemu pejabat Jepang di sebuah gedung departemen keuangan Jepang. Ketika datang, utusan Indonesia ini mengendarai mobil mewah diiringi dengan pengawalan lengkap plus sirine, namun hal itu ternyata membuatnya risih ketika mengetahui jika pejabat Jepang yang ingin dinegonya ternyata datang dengan naik bus umum, turun di halte yang agak jah dari kantornya dan karena itu harus berjalan kaki masuk ke dalam gedung yang dipimpinnya. Beginilah gaya kebanyakan pejabat kita.

Hal yang sama juga pernah terjadi di Belanda, di mana para menteri dan anggota parlemen di salah satu negara kreditor Indonesia ini memang tidak mendapatkan fasilitas mobil dinas. Bahkan anggota parlemen Belanda tidak mendapat gaji. Beda sekali dengan kelakuan para pejabat negara miskin bernama Indonesia ini.

Hal lain yang mengundang kontroversi adalah penempatan orang-orang yang bukan ahlinya pada pos-pos penting, seperti Hatta Rajasa sebagai Menko Perekonomian dan Purnomo Yusgiantoro sebagai Menteri Pertahanan. Pengamat politik Boni Hargens berkali-kali dalam berbagai kesempatan menyatakan jika dirinya curiga dengan langkah yang diambil penguasa negeri ini.

Menurut pengamat politik yang kerap muncul di Republik Mimpi ini, hal tersebut disengaja penguasa agar orang-orang itu memang gagal memimpin jajarannya sehingga mereka di tahun 2014 tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi pesaing baginya. Ada kekuatiran juga jika di dalam masa lima tahun ini, pemerintah yang menguasai parlemen ini akan menyetir DPR agar mengamandemen peraturan yang menyebutkan masa jabatan presiden hanya dua kali lima tahun menjadi tak terbatas, sama seperti di zaman Jenderal Harto. Hal ini bukan hal yang musykil melihat otorianisme mulai berkembang kembali di negeri ini dari har ke hari.

Berbagai kontroversi yang dilakukan pemerintah, dan juga anggota DPR di negeri ini, padahal mereka belum bekerja, telah menyebabkan anjloknya kepercayaan dan harapan rakyat terhadap pemerintah itu sendiri. Rakyat Indonesia seharusnya mencatat hal ini dengan baik agar lima tahun ke depan tidak lagi tertipu dengan memilih rezim dan orang-orang yang sekarang berkuasa, walau mereka mengumbar banyak janji kepada kita. Toh kenyataannya para pejabat negeri ini sekarang pun bertindak sangat keterlaluan dalam ‘merampok’ uang rakyat demi memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Janji tinggallah janji, dan seharusnya kita ingat hal itu untuk lima tahun ke depan.

Andai pejabat negara—presiden dan wakilnya, para menteri, dan juga anggota DPR—mau bersungguh-sungguh bekerja untuk memperbaiki nasib bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik, maka banyak tugas berat yang sesungguhnya harus diprioritaskan ketimbang meributkan kenaikan gaji dan fasilitas yang akan didapatkan.

Sejak lebih dari empatpuluh tahun lalu negara ini telah kehilangan kemerdekaan dan kemandiriannya. Nyaris seluruh kekayaan bangsa ini yang berupa barang tambang telah dikuasai asing, dan kian hari kian banyak saja bidang yang jatuh ke dalam kekuasaan asing itu sehingga muncul istilah jika bangsa Indonesia adalah kuli di negeri sendiri.

Sayangnya, sejumlah pejabat yang duduk di posisi kunci pemerintahan (bidang ekonomi) dari waktu ke waktu selalu saja diisi oleh pelayan-pelayan kepentingan asing, para makelar imperialisme asing, yang sangat tega terus menggadaikan kekayaan bangsa dan negeri ini sampai benar-benar habis. Mereka yang dulu dikenal sebagai Mafia Berkeley ini, sekarang dikenal sebagai nama NeoLib atau “American Boys”. Dan pemerintahan Esbeye memang dikelilingi oleh orang-orang seperti ini. Presiden pun merasa nyaman dan sepaham dengan mereka karena memang negeri keduanya adalah AS. Dan lebih dari setengah menteri di dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II adalah orang-orang lulusan AS dan sangat Washington-Oriented.

Lagi, salah satu buktinya, adalah pernyataan Menteri BUMN Mustafa Abubakar yang belum lagi bekerja tapi sudah memantapkan tekad untuk meneruskan langkah privatisasi sejumlah BUMN. Ini berarti meneruskan penggadaian kekayaan nasional ke pihak asing. Kasihan sekali nasib bangsa dan negara ini yang terus-terusan dirongrong oleh pejabat-pejabatnya sendiri sehingga bukan tidak mungkin jika hal ini terus dibiarkan, dalam waktu tidak lama lagi Indonesia akan hancur sebenar-benarnya hancur, atau bisa juga menjadi “negara maju” dengan menjadi negara bagian ke-51 dari United States of America, setelah Hawai.

Dominasi Asing di Indonesia

Agar kita semua bisa melihat dengan jernih dan jelas tentang kondisi bangsa dan negara ini sekarang, ada baiknya kita mengupas sedikit tentang bagaimana sebenarnya keadaan dan fakta riil sebuah bangsa dan negara bernama Indonsesia hari ini. Ada banyak buku dan literatur yang bisa kita paparkan, salah satunya tentu sejumlah tulisan bernas dari nasionalis bernama Kwik Kian Gie yang walau pun matanya sipit namanya terasa ‘asing’, namun jauh lebih nasionalis ketimbang para pejabat kita yang berkulit gelap dan memiliki nama pribumi.

Dalam tulisan selanjutnya akan dipaparkan sebagian fakta ril tentang dominasi asing di negeri ini, sesuatu yang sangat-sangat menyedihkan bagi kita semua.

Ayat-Ayat Allah Swt dalam Gempa di Sumatera

Ayat-Ayat Allah Swt dalam Gempa di Sumatera

Gempa besar berkekuatan 7,6 Skala Richter melantakkan kota Padang dan sekitarnya pukul 17.16 pada tanggal 30 September lalu. Gempa susulan terjadi pada pukul 17.58. Keesokan harinya, 1 Oktober kemarin, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali menggoyang Jambi dan sekitarnya tepat pukul 08.52.

Adalah ketetapan Allah Swt jika bencana ini bertepatan dengan beberapa momentum besar bangsa Indonesia, dulu dan sekarang:

Pertama, tanggal 1 Oktober merupakan hari pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 yang menuai kontroversi. Acara seremonial yang sebenarnya bisa dilaksanakan dengan amat sederhana itu ternyata memboroskan uang rakyat lebih dari 70 miliar rupiah. Hal ini dilakukan di tengah berbagai musibah yang mengguncang bangsa ini. Dan kenyataan ini membuktikan jika para pejabat itu tidak memiliki empati sama sekali terhadap nasib rakyat yang kian hari kian susah.

Bukan mustahil, banyak kaum mustadh’afin yang berdoa kepada Allah Swt agar menunjukkan kebesaran-Nya kepada para pejabat negara ini agar mau bersikap amanah dan tidak bertindak bagaikan segerombolan perampok terhadap uang umat.

Satu lagi, siapa pun yang berkunjung ke Gedung DPR di saat hari pelantikan tersebut akan mencium aroma kematian di mana-mana. Entah mengapa, pihak panitia begitu royal menyebar rangkaian bunga Melati di setiap sudut gedung tersebut. Bunga Melati memang bunga yang biasanya mengiringi acara-acara sakral di negeri ini, seperti pesta perkawinan dan sebagainya. Namun agaknya mereka lupa jika bunga Melati juga biasa dipakai dalam acara-acara berkabung atau kematian.

Kedua, 44 tahun lalu, tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 merupakan tonggak bersejarah bagi perjalanan bangsa dan negara ini. Pada tanggal itulah awal dari kejatuhan Soekarno dan berkuasanya Jenderal Suharto. Pergantian kekuasaan yang di Barat dikenal dengan sebutan Coup de’ Etat Jenderal Suharto ini, telah membunuh Indonesia yang mandiri dan revolusioner di zaman Soekarno, anti kepada neo kolonialisme dan neo imperialisme (Nekolim), menjadi Indonesia yang terjajah kembali. Suharto telah membawa kembali bangsa ini ke mulut para pelayan Dajjal, agen-agen Yahudi Internasional, yang berkumpul di Washington.

Gempa dan Ayat-Ayat Allah Swt

Segala sesuatu kejadian di muka bumi merupakan ketetapan Allah Swt. Demikian pula dengan musibah bernama gempa bumi. Hanya berseling sehari setelah kejadian, beredar kabar—di antaranya lewat pesan singkat—yang mengkaitkan waktu terjadinya musibah tiba gempa itu dengan surat dan ayat yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an.

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Ini tentu sangat menarik.

Gaya hidup bermewah-mewah seolah disimbolisasikan dengan acara pelantikan anggota DPR yang memang WAH. Kedurhakaan bisa jadi disimbolkan oleh tidak ditunaikannya amanah umat selama ini oleh para penguasa, namun juga tidak tertutup kemungkinan kedurhakaan kita sendiri yang masih banyak yang lalai dengan ayat-ayat Allah atau malah menjadikan agama Allah sekadar sebagai komoditas untuk meraih kehidupan duniawi dengan segala kelezatannya (yang sebenarnya menipu).

Dan yang terakhir, terkait dengan “Fir’aun dan para pengikutnya”, percaya atau tidak, para pemimpin dunia sekarang ini yang tergabung dalam kelompok Globalis (mencita-citakan The New World Order) seperti Dinasti Bush, Dinasti Rotschild, Dinasti Rockefeller, Dinasti Windsor, dan para tokoh Luciferian lainnya yang tergabung dalam Bilderberg Group, Bohemian Groove, Freemasonry, Trilateral Commission (ada lima tokoh Indonesia sebagai anggotanya), sesungguhnya masih memiliki ikatan darah dengan Firaun Mesir (!).

David Icke yang dengan tekun selama bertahun-tahun menelisik garis darah Firaun ke masa sekarang, dalam bukunya “The Biggest Secret”, menemukan bukti jika darah Firaun memang menaliri tokoh-tokoh Luciferian sekarang ini seperti yang telah disebutkan di atas. Bagi yang ingin menelusuri gais darah Fir’aun tersebut hingga ke Dinasti Bush, silakan cari di www.davidicke.com (Piso-Bush Genealogy), dan ada pula di New England Historical Genealogy Society.

Nah, bukan rahasia lagi jika sekarang Indonesia berada di bawah cengkeraman kaum NeoLib. Kelompok ini satu kubu dengan IMF, World Bank, Trilateral Commission, Round Table, dan kelompok-kelompok elit dunia lainnya yang bekerja menciptakan The New World Order. Padahal jelas-jelas, kubu The New World Order memiliki garis darah dengan Firaun. Kelompok Globalis-Luciferian inilah yang mungkin dimaksudkan Allah Swt dalam QS. Al Anfaal ayat 52 di atas. Dan bagi pendukung pasangan ini, mungkin bisa disebut sebagai “…pengikut-pengikutnya.”

Dengan adanya berbagai “kebetulan” yang Allah Swt sampaikan dalam musibah gempa kemarin ini, Allah Swt jelas hendak mengingatkan kita semua. Apakah semua “kebetulan” itu sekadar sebuah “kebetulan” semata tanpa pesan yang berarti? Apakah pesan Allah Swt itu akan mengubah kita semua agar lebih taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Atau malah kita semua sama sekali tidak perduli, bahkan menertawakan semua pesan ini sebagaimana dahulu kaum kafir Quraiys menertawakan dakwah Rasulullah Saw? Semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Wallahu’alam bishawab.

Kamis, 22 Oktober 2009

Di bawah Panji NeoLib jilid II

Ibarat komputer, yang berubah casing-nya doang tapi “jeroannya” sama saja. Beginilah pemerintahan Indonesia sejak era Harto hingga sekarang.

Kabinet Indonesia Bersatu jilid II telah diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu malam (21/10) di Istana Negara Jakarta. Sejumlah kalangan menyatakan harapan baru pada kabinet yang terbentuk, sebuah harapan agar Indonesia lima tahun ke depan bisa tambah baik, rakyatnya lebih sejahtera, dan angka kemiskinan bisa dikurangi dengan drastis.

Namun banyak pula yang menyatakan jika susunan kabinet baru ini tidak membawa harapan apa-apa karena “chip” di dalam “mikroprosesor” mesin besar bernama Pemerintah Republik Indonesia ini masih saja sama-sebangun dengan yang digunakan sejak masa Jenderal Harto. Ibarat komputer, yang berubah casing-nya doang tapi “jeroannya” sama saja.

Mungkin hal inilah yang membuat pakar komunikasi politik Dr. Effendi Ghazali dalam acara di MetroTeve tadi malam (21/10) menyatakan jika Kabinet Indonesia Bersatu jilid II ini tidak ada bedanya dengan yang jilid I. Hanya saja, mungkin untuk menepis anggapan jika pemerintahan sekarang ini kental dengan NeoLibnya maka beberapa pos bidang ekonomi diisi dengan orang-orang yang selama ini kurang dikenal sebagai pentolan NeoLib. “Dan orang-orang NeoLibnya mengisi jabatan wakil menteri..,” ujar Ghazali sambil tertawa.

Walau pemerintah SBY selama ini tidak pernah mengaku sebagai pemerintahan yang menjalankan agenda besar Neo-Liberal atau NeoLib, namun banyak sekali fakta yang memaparkan kepada kita semua dengan teramat jelas dan telanjang jika NeoLib ini merupakan suatu keniscayaan dan benar adanya. Hanya mereka yang jahil dengan isme-isme dalam ekonomi-politik yang mau percaya dengan apa yang dikatakan pemerintah, atau mungkin juga mereka-mereka yang selama ini diuntungkan oleh sistem NeoLib seperti sekarang ini.

Bagaimana dengan susunan pemerintahan sekarang, termasuk presiden dan wakil presidennya? Mari kita jembreng satu-persatu, kecuali tentu saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah dikenal khalayak luas sebagai orang yang memang dekat dengan Amerika Serikat. Jenderal Angkatan Darat yang mengambil Jalur Staf ini—satu jalur aman karena kebanyakan diisi dengan duduk di belakang meja, sangat beda dengan Jalur Komando seperti yang diambil Prabowo Subianto yang kebanyakan harus aktif di medan tempur dan peperangan—dalam merintis karir militernya, mondar-mandir menuai ilmu di Amerika Serikat dengan mengikuti dua kali program latihan militer di Fort Benning, Georgia (1976 dan 1982). Juga di Fort Leavenworth, Kansas (1991). Gelar Pasca Sarjana pun diperolehnya di Amerika Serikat.

Sebab itu, SBY berterus terang jika AS merupakan negerinya yang kedua setelah Indonesia. Itu ditegaskannya saat berkunjung ke AS tahun 2003 sebagai Menko Polkam dalam Kabinet Presiden Megawati Soekarnoputeri. SBY berkata, ‘’I love the United State, with all its faults. I consider it my second country’’. Saya mencintai Amerika dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya sebagai negeri kedua saya.” (lihat Al Jazeera English–Archive, 6 Juli 2004. Atau bagi yang ingin melihat link-nya silakan klik http://english.aljazeera.net/archive/2004/07/20084913557888718.html).

Sebab itu, bukan barang aneh jika di masa kekuasaan SBY yang pertama (2004-2009), kebijakan pemerintah Indonesia sangat loyal pada imperialisme Amerika Serikat, bahkan hingga harus mengorbankan kepentingan nasional Indonesia sendiri.

Dua contoh yang sangat kasat mata adalah saat menjamu kedatangan Bush di Bogor beberapa tahun lalu yang sangat kelewat berlebihan pelayanannya, yang satu di antaranya adalah pemerintah sengaja melanggar undang-undang yang disahkannya sendiri dengan membangun helipad di tengah Kebun Raya Bogor yang sesungguhnya terlarang menurut UU, dan yang kedua dalam kasus penyerahan Blok Migas Cepu kepada Exxon Mobile, perusahaan dunia milik John David Rockefeller. Banyak orang di dnia ini sudah tahu jika Rockefeller merupakan tokoh Bilderberger Group dan pendiri Trilateral Commission, dua lembaga internasional yang bekerja secara rahasia untuk menciptakan The New World Order, satu tatanan dunia dengan sistem Luciferianis. Ironisnya, Pertamina yang sedari awal menyatakan siap mengelola Blok Cepu dijegal dan dikalahkan. Lagi-lagi kepentingan nasional dikalahkan dan kepentingan imperialisme asing dimenangkan.

Hal ini membuat banyak pejuang kebenaran di negeri ini menangis. Salah satunya Kwik Kian Gie. Dalam artikel berjudul “Kisah Usang Dari Negeri Cepu: Liberalisme Versus Nasionalisme” (dimuat di Feodalisme.com; 7 Oktober 2009), Kwik menutup artikel tersebut dengan kalimat, “Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, “Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri.”

Untunglah, saat berkuasa di tahun 2004-2009, ada sejumlah orang di lingkaran dalam presiden yang masih memiliki jiwa nasionalisme untuk menahan kegilaan liberalisasi negeri ini. Mereka antara lain adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Kesehatan DR. Siti Fadhillah Supari.

Berbagai terobosan dilakukan Jusuf Kalla untuk meringankan beban rakyat Indonesia yang kian hari kian dihimpit beban hidup yang semakin berat. Untuk menolong rakyat yang tercekik akibat dinaikkannya harga minyak di negeri ini yang oleh orang-orang NeoLib harus disamakan dengan harga minyak di New York, Kalla menciptakan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi rakyat miskin. Ini baru salah satunya.

Lalu ada pula Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari yang dengan lantang berteriak menentang WHO dalam urusan pertukaran sampel virus yang dirasakan sangat tidak adil. Bahkan menteri perempuan yang satu ini tanpa sungkan-sungkan berani menuding jika WHO selama ini dijadikan alat negara besar untuk kepentingannya sendiri dengan menjajah negeri-negeri berkembang seperti Indonesia.

Dalam kasus NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit-2) milik AS yang secara semena-mena dan sangat bebas bisa bergerak di dalam wilayah kedaulatan NKRI. Menkes Fadhilah Supari juga sangat berani menentang hal ini dan meminta agar pemerintah memutuskan kontrak kerja yang dirasakan sangat zalim dan sama sekali tidak ada untungnya bagi Indonesia.

Presiden SBY tentu amat gerah dengan sikap-sikap bawahannya seperti itu. Namun untuk bisa menindak mereka, tentu SBY juga harus menghitung arah angin yang sedang berlaku. Dalam kasus virus WHO dan NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit 2), Menkes Fadhilah Supari mendapat dukungan dari banyak pihak yang disuarakan lewat berbagai media massa cetak maupun elektronik. SBY yang dikenal sebagai presiden yang sangat menjaga imejnya ini tentu hanya bisa bersabar dan menunggu momentum yang tepat untuk ‘menindak’ Menkes yang dianggapnya kelewat berani ini.

Dan momentum yang tepat ya ketika usai pilpres kemarin di mana pasangan SBY-Budiono diputuskan sebagai pemenang oleh KPU. Sebelumnya SBY telah “menceraikan” Jusuf Kalla dan memilih Budiono yang memiliki cita rasa yang sama terhadap Amerika. Dan ketika menyusun Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, SBY tidak lagi “memperpanjang kontrak” dengan Siti Fadhilah Supari dan lebih nyaman memilih dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, sosok yang oleh Siti Fadhilah Supari sendiri ditegaskan amat dekat dengan Namru-2, beda dengan dirinya.

di kutip dari Eramuslim.com

*) Redaksi menyalin apa adanya, sesuai dengan aslinya dengan tanpa bermaksud adanya muatan politis

Rabu, 21 Oktober 2009

ISLAM AGAMA KU... IRPAJA WADAH PERJUANGAN KU...!!!

ISLAM AGAMA KU...
IRPAJA WADAH PERJUANGAN KU...!!!
Oleh :
Muhammad Faris

Di tengah hiruk pikuk globalisasi, amburadulnya pergaulan anak muda zaman sekarang membuat anak-anak Parakan Jati kegerahan. akhirnya mereka merapatkan barisan mendirikan wadah perjuangan untuk mengantisipasi serta membentengi diri mereka agar terhindar dari hal yang semacam itu.sekaligus juga membentengi keluarga dan orang-orang sekitar lingkungan mereka agar tidak ada lagi yang menjadi korban amburadulnya pergaulan masa kini. Akhirnya wadah itu dinamai IRPAJA
( Ikatan Remaja Parakan Jati ). Walaupun usia IRPAJA ini belum genap satu tahun
( belom ada giginye...), tetapi IRPAJA sudah banyak melakukan gerakan yang mampu menarik simpati sekaligus menyadarkan warga sekitar untuk merapatkan barisan menjaga kampung Parakan Jati dari bahaya globalisasi yang sedikit demi sedikit masuk ke kampung kami. Pasalnya, parakan jati ini menurut sejarahnya adalah kampung santri. Sebab mayoritas warga parakan jati adalah jebolan pesantren, baik salafi ataupun modern. Sayang sekali kalau predikat "Kota Santri" yang dimiliki parakan jati itu hanya tinggal nama saja lantaran warga sekitar (pemuda khususnya) sudah tidak engeh lagi bahwa nilai-nilai keislaman di dalam diri mereka sudah hilang sedikit demi sedikit lantaran sudah terhanyut oleh indahnya pergaulan bebas akibat firus globalisasi.
Belum lagi rencana pembangunan jalan pemda dan jalan tol yang nantinya mungkin banyak membawa perubahan yang tidak baik untuk kampung kami. Ini jelas merugikan kampung kami. Kerugian berupa sulitnya bersilaturahmi dengan saudara kami sekampung, belum lagi masalah budaya, ekonomi, pendidikan dsb.
Komitmen IRPAJA dalam rangka menggalang perubahan akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kampung halamannya, akan terus mengabdi kepada masyarakat, agama dan negara. Berjuang tiada henti melawan arus globalisasi yang kian hari makin banyak kader muslim yang terpengaruh oleh budaya yang sesungguhnya bukan budaya islam, mencoba mempertahankan nilai-nilai keislaman di dalam jati diri kampung parakan jati. Agar parakan jati tetap menjadi " kampung santri " , kampung yang penuh keberkahan di dalamnya. Dan tidak lupa mengembalikan keberkahan negri ini yang sedikit-sedikit terangkat akibat perbuatan anak bangsa ini. Semoga Allah SWT meridhoi perjuangan kita, apa yang kita perjuangkan senantiasa dibimbing serta diridhoi oleh Allah SWT. Hayya 'alal Falaaah...!!!!!

IRPAJA
siap menggalang perubahan...!!!


Selasa, 15 September 2009

Susunan Pengurus IRPAJA

Dewan Pembina
(Kepala Desa Susukan)
Yana Suryana

Dewan Penasehat
(Majlis Ulama Desa Susukan)
KH.Fachruddin SE
Ust. Ismail Ramli
Ust. Masykur
Ust. Anas Nasrih Ma'ruf
Ust. Amsori Al-Khudri

Badan Pengawas dan Konsultasi Pengurus Organisasi
Zakaria Al-Anshori
Iswadi
Achmadi

Ketua
Ahmad Syahlani

Koordinator Wilayah Rw 03
Dhodie
Rahayu

Koordinator Wilayah Rw 04
Ridwan
Rika kartika

Sekretaris
Nurwidya Astuti

Bendahara
Sri Mulyanah

Divisi Pendidikan dan Pengembangan Kader
Koordinator
Muhamad Faris
Anggota
Ma'mun Nawawi
M. Nuh Setiawan
Harlie Febriliant
Nidya Prameswari
Liana

Divisi Seni Dan Olahraga
Koordinator
muhammad Andi
Anggota
Hendra
Heru Septiadi
Indriani
Nia Safitri
Ayanah

Divisi Pengabdian Masyarakat
Ketua
Syarifuddin
Anggota
Hasan Sajili
Isa Alamsyah
Yani suryani
Herawati
Yanti

Divisi Pengembagan Jaringan
Koordinator
Ilham Jumaismart
Anggota
Ainul Yaqin
Iis Supriatna
Mega Putik N
Siti Fatimah
Ayu

Divisi Pemberdayaan Perempuan
Koordinator
Siti Halimatusa'diyah
Anggota
Ulfi
Ani
Sartika
Rina
Nur Amelia

Divisi Sarana dan Pendanaan
Kordinator
Syaiful Yahya
Anggota
Muhammad Nasef
Ilham Budianto
Iwan Setiawan
Abdul Hadi