Sabtu, 23 Oktober 2010
Selamat Jalan Ust Masykur
penyakit yang mendera beliau selama bertahun-tahun tidak pernah di hiraukannya, beliau tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya hingga hari kamis lalu bumi susukan bersedih atas kepergiannya.
banyak yang tidak menduga kepergian beliau begitu cepat, sebelumnya beberapa teman irpaja masih sempat silaturahmi pada malam jum'at dan malam rabu sebelum kepergian beliau dan masih sempat memberikan nasihat-nasihatnya kepada kami hingga hari kamis itu datang kabar yg mengejutkan buat kami.
semoga saja kita selaku murid-murid beliau bisa menjadikan susukan seperti apa yang beliau cita-citakan.
mudah-mudahan ilmu-ilmu yang telah beliau sampaikan menjadi ilmu yang bermanfaaat buat kita semua hingga membuahkan pahala yang terus mengalir kepada beliau
amin-amin ya rabbal alamien...
Minggu, 28 Februari 2010
Maulid Nabi
Salahuddin Al Ayubbi, Maulid Nabi, dan Bangkitnya Semangat Kaum Muslilmin
Salahuddin Al Ayubbi adalah seorang pejuang Islam terbesar dalam Perang Salib. Bahkan orang-orang Eropa pun mengakui kehebatannya. Saladin ( sebutan Salahuddin di Eropa ) sangat ditakuti dan terkenal ditelinga orang Eropa. Salahuddin lebih dikenal dalam sejarah dunia karena tekadnya yang luar biasa kuat untuk menaklukkan kota suci Al- Quds, Palestina. Beliau juga dikenal sebagai seorang Sultan yang cinta damai dan penuh toleransi. Sedangkan masyarakat Eropa, mereka merasakan keguncangan ekonomi yang luar biasa saat melawan Salahuddin al Ayubbi. Saat itu di seluruh daratan Eropa mengumumkan kebijakan pemungutan pajak / biaya perang yang cukup tinggi untuk melawan Salahuddin. Orang – orang Eropa menyebut peristiwa ini sebagai Saladin Thite.
Saat Salahuddin menjadi Sultan, kondisi ummat Islam dalam kondisi yang mengenaskan secara rukhyah. Penyakit Wahn ( cinta dunia dan takut mati ). Penyakit hati ini menyebar dan tumbuh subur di dalam hati sebagian besar kaum muslimin sehingga api jihad benar benar padam. Sebagaimana kita tahu bahwa semangat jihad adalah modal tidak dimiliki oleh ummat lain. Sejarah membuktikan bahwa semangat jihad inilah yang menurunkan keridhoan Allah atas setiap kemengan ummat Islam. Seperti kemenangan Perang Badr, Yarmuk, Khandak, dan lainnya. Di sisi lain ukhuwah ummat muslim sangatlah hancur. Secara politik ummat Islam terpecah pecah dalam beberapa kerajaan dan kesultanan walaupun masih dalam satu kekhalifahan Abbasyah yang berpusat di Baghdad.
Melihat kondisi seperti itu, Salahuddin berpikir bahwa untuk melawan pasukan salib tidak hanya membutuhkan pasukan dalam jumlah besar, melainkan juga api jihad yang berkobar-kobar dalam setiap jiwa kaum muslimin. Salahuddin ingin membangkitkan semangat jihad dengan menghadirkan kembali semangat juang dan kepahlawanan Rasulullah Muhammad saw. Kemudian Salahuddin menggagas sebuah festival yang dinamai dengan Maulid Nabi Muhammad saw. Tujuan dari festival ini adalah untuk mengembalikan semangat juang Rasulullah dengan mempelajari sirah-sirahnya. Di festival ini, dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai perjuangan (jihad).
Pada awalnya, gagasan Salahuddin ini di tentang oleh para ulama, karena kegiatan ini adalah bid’ah ( kegiatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ). Salahuddin menegaskan bahwa acara ini bukanlah kegiatan ritual yang merupakan bid’ah yang dilarang, tetapi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar. Kemudian Salahuddin meminta persetujuan kepada khalifah Abbasiyah, An-Nashir di Baghdad. Dan khalifah pun setuju dengan ide Salahuddin.
Pada musim haji bulan Dzulhijjah 579 H ( 1183 M ), Salahuddin memerintahkan kepada jamaah haji untuk mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad di tempatnya masing- masing pada tahun berikutnya. Perayaah itu harus bersifat membangkitkan semnagat ummat Islam untuk kembali belajar Islam dan berjihad.
Kemudian tiba-tiba kehidupan Rasulullah saw. Muncul di seluruh penjuru negeri kaum muslimin. Kisah kepahlawanan, lika-liku kehidupan, pengorbanan dan suka duka yang dialami Rasulullah ada di pelupuk mata tiap ummat Islam. Kerinduan luar biasa dan tangis mengingat perjuangan Rasulullah membangkitkan kembali semangat jihad ummat muslim. Festival ini berhasil membangunkan kaum muslimin dari tidur panjangnya.
Selama beberapa kali dilaksanakan, festival ini terbukti efektif menghilangkan penyakit Wahn dari hati umat Islam. Gagasan Salahuddin itu berhasil mengguncang negeri Muslim. Parang tua dan pemuda berbodong-bondong di belakang Sultan untuk bersatu dalam satu barisan jihad. Kumandang jihad di dengungkan di mana-mana, di setiap sudut negeri Muslim. Api jihad yang berkobar-kobar di dalam hati membangkitkan semangat untuk menggempur pasukan salib dan membebaskan kota suci umat Islam.
Salahuddin berhasil memobilisasi pasukan dalam jumlah besar dan mengobarkan semangat jihad. Al hasil pada tanggal 27 Rajab 583 H ( 2 Oktober 1187 M ), Salahuddin dan pasukan muslimin memasuki Palestina dengan penuh kedamaian.
Banyak perdebatan tentang Maulid Nabi. Ada yang melarang tapi ada juga yang membolehkan. Tapi satu hal yang harus kita ingat tentang Maulid Nabi adalah esensi utamanya, yaitu mengingat kembali kehidupan Rasulullah untuk membangkitkan semangat mempelajari Islam dan semangat berjihad. Tapi tampaknya peringatan Maulid Nabi saat ini terasa kering. Hanya sekedar peringatan saja tanpa memberikan effek pada yang mengadakannya.
Widianto Noviansah
Mahasiswa Teknik Sipil ITB
Peserta Beasiswa PPSDMS ( Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis )
sumber : Eramuslim.com
Senin, 15 Februari 2010
Kata Mutiara
Maka Buatlah Mereka Menagis Tersedu-sedu merasa kehilangan Ketika Kematianmu…”
( mahatma Ghandhi )
Demikianlah kata mutiara yang keluar dari mulut orang yang paling berjasa di negri bolliwood. Mungkin diantara kita masih ada yang bingung bagaimana memahami kata mutiara yang menjadi judul pada tulisan ini. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, mencoba untuk memahami maksud dari kata mutiara tersebut.
Sejak dari kecil, orang tua saya selalu mengajarkan saya agar kelak menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi sesama tentunya bermanfaat dalam hal kebaikan. Atas dasar hadis Rasulullah Saw ; “ sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama ”. Islam agama yang paling mulia mengajarkan kepada setiap pemeluknya hal-hal yang bisa membuat pemeluknya mulia dihadapan Tuhannya dan manusia disekitarnya. Sebenarnya banyak hal yang bisa mengangkat derajad manusia menjadi mulia tapi bodohnya kebanyakan manusia tidak bisa memanfaatkan bahkan tidak mau untuk memanfaatkan hal tersebut. Salah satu hal yang bisa mengantarkan manusia menjadi sebaik-baiknya manusia adalah menjadi orang yang mau saling membantu terhadap sesama, yang bisa menciptakan sejarah yang bermanfaat sehinnga akan selalu dikenang oleh manusia disekelilingnya. Banyak tokoh yang berasal dari kalangan orang- orang biasa yang menjadi terkenal di dunia ini karena beliau-beliau berhasil menciptakan hal yang bermanfaat bagi hajat hidup manusia.
Sebagai contoh, sang suri tauladan terbaik di dunia dan sang pencipta sejarah terbaik sepanjang zaman yakni nabi Muhammad saw. Kelahiran beliau menjadi kebahagiaan orang-orang disekitar beliau terutama kalangan suku Qurays. Mereka merasa bangga mempunyai keturunan yang sudah diramalkan akan menjadi orang besar di negri Arab kala itu. Kita semua tahu peranan beliau dalam merubah peradaban manusia jahiliyah pada masa itu. Beliau berhasil ( dengan izin Allah) menyelamatkan manusia pada masa itu dari kebodohan yang bisa mencelakakan mereka dengan perbuatan mereka padahal sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang yang bodoh dan setiap hal yang diajarkan dan dilakukan beliau itu menjadi hal yang bermanfaat bagi orang-orang disekeliling beliau kala itu bahkan sampai saat sekarang ini. Ketika beliau wafat, dunia ini merasa kehilangan. Langit, bumi dan semua mahkluk Allah menangis karena kehilangan manusia terbaik yang pernah Allah ciptakan. Tidak ada yang bisa melupakan dan memungkiri jasa-jasa beliau.
Dan pada alinea ke empat ini saya mencoba memahami maksud dari kata mutiara yang menjadi judul pada tulisan ini. Kalau orang-orang bahagia dengan kelahiran kita apakah kita rela ketika kita meniggal orang-orang juga bahagia dengan kematian kita. Apakah suatu hal yang diinginkan manusia ketika ia meninggal orang-orang disekitarnya pada bahagia?? Kalau itu terjadi, pasti ada satu hal pada diri kita atau ada perbuatan kita yang mengganggu orang-orang itu sehinga mereka merasa tenang dan bahagia saat kita meninngal, karena tidak ada lagi yang mengusik ketentraman mereka akibat kelakuan kita. Lain halnya dengan orang-orang yang bisa memberikan kenyamanan, bisa mempersembahkan yang terbaik bagi orang-orang disekitarnya, bisa mempersembahkan hal yang bermanfaat dan bisa selalu dikenang menjadi sebuah sejarah bagi orang-orang yang merasakan manfaat dari apa yang dilakukan selama masa hidupnya di masyarakat sehingga menjadi sejarah yang tak terlupakan bagi orang-orang disekitarnya. Sehingga ketika iameninggal banyak sekali orang-orang yang sedih merasa kehilangan orang seperti itu. Intinya adalah bagaimana kehidupan kita selama ini bisa dikenang sebagai sejarah yang takkan terlupakan bagi orang-orang disekitar kita.
Menjadi orang yang bermanfaat lebih mudah ketimbang buang air di dalam celanan. Asal kita mau melakukannya. Banyak cara yang bisa megantarkan kita menjadi orang yang bermanfaat. Islam tidak mengajarkan kepada pemeluknya untuk hidup bahagia sendiri sehingga tidak memperdulikan keadaan orang-orang disekitarnya. Ketika kita makan dengan lahap apa kita pernah sadar ada tetangga kita yang tidak mampu untuk makan?ketika semua kebutuhan hidup kita dapat terpenuhi dengan mudahnya apakah pernah kita sadari ada tetangga kita yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya? Sungguh malang manusia yang tidak pernah memperdulikan saudaranya.
IRPAJA dalam rangka menggalang perubahan mencoba mengumpulkan dan mengajak pemuda-pemudi Parakan Jati yang mau mengabdikan separuh hidupnya untuk islam dan masyarakat Parakan Jati. Bersama kita menciptakan sejarah baru di kampung kita. Bersama kita menjadi manusia yang bermanfaat dengan memberikan ilmu, pengalaman dan semangat kemauan yang kita punya untuk tatanan hidup yang lebih baik lagi di kampung kita. Jangan pernah takut kekurangan akan kebutuhan hidup kita selama mengabdi, berjuang untuk islam dan masyarakat. Allah telah menjajikan bagi hamba-Nya yang mau berjuang untuk islam dan berbuat baik kepada sesama. Berjuang tidak hanya dengan mengangkat senjata, berdiri di garis depan peperangan melawan musuh-musuh islam, melakukan bom bunuh diri dan cara-cara ekstrem lainnya. Yang dibutuhkan di kampung ini adalah bagaimana caranya menjadikan masyarakat kampung ini menjadi masyarakat yang islami, yang melakukan setiap aktifitasnya berdasarkan nilai-nilai keislaman yang telah diajarkan nabi Muhammad saw agar kampung ini selalu dihiasi dengan keberkahan dan ridho Allah SWT. IRPAJA diharapkan bisa mencetak kader-kader muda islam yang peduli terhadap sesama dan tangguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman, yang kuat menahan pergaulan bebas lewat arus kebobrokan dari westernisasi dan globalisasi yang saat ini menjadi tren di kalangan pemuda INDONESIA yang bisa menjauhkan kaum muda dari agamanya. Seenggaknya pemuda-pemudi Parakan Jati ini bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat.
“ Bergerak, berjuang bersama IRPAJA untuk Parakan Jati yang lebih baik “
Selasa, 02 Februari 2010
Hedonisme
Tujuan pendidikan Negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945, alinea 4). Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang hedonisme, tetapi bangsa yang punya spiritual, punya emosional quotient- peduli pada sesama dan tidak selfish atau mengutamakan diri sendiri. Apakah banyak pelajar yang berpotensi menjadi generasi yang hedonism yaitu generasi yang memandang kesenangan hidup dan kenikmatan materi sebagai tujuan yang utama ? Jawabnya adalah “ya”. Lantas apa indikatornya ?
Bahwa hedonismee sebagai fenomena dan gaya hidup sudah tercermin dari prilaku mereka sehari-hari. Mayoritas pelajar berlomba dan bermimpi untuk bisa hidup mewah. Berfoya-foya dan nongkrong di kafe, mall dan plaza. Ini merupakan bagian dari agenda hidup mereka. Barangkali inilah efek negatif dari menjamurnya mall, plaza dan hypermarket lainnya. Mengaku sebagai orang timur yang beragama, namun mereka tidak risih bermesraan di depan publik . ini adalah juga gaya hidup mereka. Hal lain yang membuat hati kita gundah- menyimak berita pada televisi dan Koran-koran bahwa sudah cukup banyak pemuda-pemudi kita yang menganut paham hidup free sex dan tidak peduli lagi pada orang-orang sekitar. Hamil di luar nikah bukan jadi ‘aib lagi, malah sudah dianggap model karena para-para model mereka juga banyak yang begitu seperti digossipkan oleh media elektronik (TV) dan media cetak (majalah, Koran dan tabloid).
Gaya hidup hedonismee tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonisme. Orang tua dan kaum kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Mereka (atau kita) lalai untuk mewarisi anak dan keponakan dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Kita tidak banyak mencikaraui (campur tangan) anak tentang hal spiritual. Sebagai orang tua, kta jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa.
Kecendrungan orang tua yang pro dengan gaya hidup hedonism, memandang anak bukan sebagai titipan Ilahi. Tapi memandang anak sebagai objek untk di utak-atik. Sejak kecil anak sudah diperlakukan dengan hal yang aneh-aneh; anak dianggap lucu kalau rambutnya di gondrongkan, nyanyinya ya nyanyi tentang cinta- kalau perlu syair yang jorok. Katanya Sejak kecil anak didik bahwa shopping yang ngetren musti di mall, dan makanan yang bergizi adalah KFC atau burger. Orang tua yang pro hedonisme tidak begitu peduli dalam mengasah spiritual anak. Tidak heran kalau anak-anak mereka cenderung menjadi generasi free thingker atau generasi yang kurang diajar untuk mengenal Sang Khalik. Akibatnya mereka tumbuh jadi generasi yang rapuh, mudah putus asa dan mencari kambing hitam, bila ditimpa musibah “Aku sakit karena shio ku shio kuda, atau aku lagi sial gara-gara memakai kemeja merah ini”.
Sampai sekarang tetap orang, termasuk pelajar/generasi muda, memandang segala sesuatu yang berasal dari Barat sebagai hal yang hebat. Pelajar merasa minder kalau ketahuan lebih mengidolakan lagu daerah, lagu Minang, dan lagu dangdut. Mereka harus mengidolakan lagu dan musisi dari barat. Poster-poster figur dari Barat, artis dan atlit, patut ditempel di kamar belajar. Kemudian tiap saat mengupdate atau mengikuti perkembangan beritanya; “ oh artis atau atlit dari klub itu lagi pacaran, yang ini mau cerai, yang itu punya mobil mewah, yang itu lagi bersenang-senang dengan kekasihnya di laut caribia….wah aku patut meniru gaya hidup nya”. Demikianlah pelajar dari dalam kamarnya menyerap gaya hedonisme dari info-info tentang figur-fugur idola yang menempel di dinding kamarnya dibandingkan figur-figur intelektual, pahlawan, pendidik dan tokoh spiritual lainnya.
Faktor bacaan dan tontonan memang dapat mencuci otak pelajar untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme. Adalah kebiasaan pelajar kalau pulang sekolah pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di kios penjualan majalah dan tabloid. Ada sejumlah tabloid dan majalah, ada untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Tabloid dan majalah untuk remaja ada yang punya tema tentang agama, olahraga, pendidikan, dan majalah/tabloid popular. Umumnya yang berbau agama dan pendidikan kurang laku. Yang paling laris adalah tabloid dan majalah remaja popular yang isinya banyak bersifat hura-hura- shopping dan kencan.
Coba ambill satu majalah pop remaja (tidak perlu sebut nama majalahnya) maka yang terlihat pada covernya adalah sepasang kaum adam-hawa yang berusia belia lagi dimabuk asmara. Kalau tidak demikian mana mungkin laku, karena pebisnis sengaja meraup untung lewat mencuci otak remaja menjadi sekuler dan hedonisme. Kemudian coba balik halaman demi halaman. Maka yang kita jumpai adalah gambar-gambar iklan seputar, parfum, make up, pakaian sexy yang sangat tidak pantas untuk orang timur yang terkenal punya budaya malu. Kemudian style rambut dan akssesori- untuk cowok rambut dipanjangkan atau model punk, diberi warna, style wanita lain lagi. Memakai celana harus melorot, jangan lupa dengan akssesori. Karena yang membelinya adalah para pelajar maka tabloid dan majalah pun telah mencuci otak mereka. Akibatnya pelajar sering bermasalah dengan disiplin sekolah.
Sampai detik ini semua sekolah di Indonesia tidak pernah mengizinkan siswa pria ya memakai anting-anting pada sebelah telinga, memakai tattoo, mengambil style rambut seperti artis atau atlit- di gunting panjang/ gondrong atau disisir punk seperti duri landak. Selanjutnya sampai detik ini sekolah tetap mengharapkan siswanya supaya berpenampilan rapi, kalau boleh gagah seperti ABRI, ke sekolah bukan ibarat artis pergi ke concert- seragam dengan celana melorot, harus tersumbul sedikit celana dalam di bagian punggung, kaki di beri gelang atau rantai, ibarat kaki gajah di Way Kambas Lampung, tangan dan jari penuh dengan akssesori. Pelajar-pelajar yang berjiwa hedonis umumnya tidak begitu menghargai waktu dan dan jalannya lemas, beda dengan kaum hedonis di Barat. Mereka kerja keras mati-matian untuk mewujudkan hedonismeenya. Sementara pelajar kita yang menyenangi gaya hidup hedonisme cenderung bekerja dan belajar santai (karena mereka punya moto: hidup santai masa depan cerah) mereka terlalu bergantung dan menghabiskan harta orang tua.
Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang pelajar untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah nggak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah ! seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali hanya banyak menghibur.
Rancangan majalah popular dan tema televisi komersil di negara kita memang sedang menggiring pelajar menjadi generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk menjadi generasi produktif. Tema iklannya adalah “manjakanlah kulitmu”. Andaikata semua pelajar dan mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit. Pastilah sawah dan ladang, serta lahan-lahan subur makin banyak yang tidak terurus. Karena mereka semua takut jadi hitam. Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah kualitas intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan dengan manusia (kualitas fikiran dan keimanan).
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa banyak pelajar dengan gaya hidup hedonisme yang mereka sadur lewat budaya hedo dari barat, terinspirasi oleh model-model atlit dan artis yang info perkembangannya selalu mereka update tiap saat. Kemudian gaya hidup hedo (hedonisme) juga diperkaya oleh suguhan majalah pop remaja dan belasan stasiun televisi swasta yang bernuansa sekuler dengan gaya hidup figur yang penuh glamour dan kepalsuan. Namun ada bedanya, yaitu tokoh tokoh yang bergaya hidup hedonisme dari dunia Barat dan dari Indonesia sendiri, mereka memperoleh gaya hidup hedonisme lewat kerja keras. Sementara remaja dan juga mahasiswa (juga banyak terjebak dalam gaya hedonisme) menjadi hedonism dengan cara bermimpi, kadang-kadang tampil keren karena memakai baju dan celana pinjam atau hidup dengan gaya hedonisme lewat menggunakan fasilitas orang tua, inilah yang dikatakan sebagai hedonisme picisan.
Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencri rezki.
Selasa, 15 Desember 2009
Bernegosiasilah dengan Impian Anda
Oleh Mario Teguh
Seorang nenek kebetulan berlalu saat saya berjalan menelusuri sisa-sisa dari yang dulunya adalah bangunan-bangunan tua nan elok di pinggiran sungai Batang Arao, Padang.
Dia membawa semua harta yang dapat dibawanya, dengan senyum dan keramahan yang membekukan langkah saya.
Jiwa yang kuat dan ikhlas seperti ini belum tentu berlabuh dalam badan-badan yang lebih muda, yang lebih kuat, dan yang lebih sehat.
Kekuatan jiwa adalah masalah keputusan. Anda memutuskan untuk kuat, atau tidak. Itu pilihan Anda. Bukan pilihan orang lain. Jangan harapkan orang lain, yang akan memutuskan apa yang harus Anda hidupi dengan berani.
Ini kehidupan Anda. Keputusan kehidupan adalah keputusan pribadi. Putuskanlah dengan berani karena keberanian adalah bukti dari iman.
Anda tidak boleh bernegosiasi dengan impian Anda.
Bernegosiasilah dengan apa yang harus Anda lakukan untuk mencapainya.
Anda memang mungkin akan berakhir dengan keharusan untuk menerima yang kecil, jika Anda kalah dalam bernegosiasi dengan orang lain.
Tetapi itu adalah kemungkinan yang bisa Anda perbaiki dengan menjadikan diri Anda lebih ahli dalam jalan dan cara negosiasi. Tetapi, Anda akan hanya mengharapkan sebuah kehidupan yang kecil, jika Anda menang bernegosiasi melawan impian Anda sendiri.
Maka, jangan tawar impian Anda. Jangan kurangi yang mungkin Anda capai. Apa pun yang Anda impikan, biarkanlah ia besar dan tinggi.
Lalu, besarkanlah harapan Anda, tuluskanlah doa Anda, ikhlaskanlah kelebihan pelayanan Anda, dan utuhkanlah keberserahan Anda.
Jangan kalahkan hak Anda untuk berhasil!
Senin, 14 Desember 2009
Gaji Pejabat Melangit, Rakyat Menjerit
Masa Jabatan Presiden-wakil Presiden SBY-JK usai sudah, pelantikan pasangan presiden dan wakil baru, SBY-Boediono, pun digelar pada 20 Oktober 2009. Berikutnya, adalah pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II pada 21 Oktober 2009. Kurang dari 24 jam setelah para menteri dilantik, tepatnya 22 Oktober 2009, Kementrian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi langsung mengajukan usulan kenaikan gaji bagi para pejabat Negara.
Berdasarkan pasal 11 UU 43 Tahun 1999 mengenai Pokok-pokok Kepegawaian, yang disebut penguasa atau pejabat Negara adalah: Presiden dan Wakil Presiden, Pimpinan dan Anggota MPR, Pimpinan dan anggota DPR, Pimpinan dan Anggota MA, serta Pimpinan Badan Peradilan, Pimpinan dan Anggota BPK, Para Menteri dan Pejabat setingkat Menteri, para Duta Besar RI, Gubernur dan Wakil Gubernur, dan Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota.
Selain mendapat kenaikan gaji, para pejabat Negara pun akan mendapat mobil dinas baru. Sebelumnya mobil dinas yang ada adalah Toyota Camry seharga 600 jutaan, diganti dengan mobil mewah Toyota Crown Majesta yang harganya ditaksir mencapai 1,8 milyar. Selain itu, fasilitas perjalanan dinas dan akomodasi kabarnya juga akan dinaikkan. Sungguh angka yang demikian besar, mengingat gaji dan fasilitas tersebut berasal dari uang rakyat.
Sebenarnya, saat ini para pejabat sudah mendapat gaji dan fasilitas yang cukup besar. Gaji Presiden RI Rp 62,7 juta perbulan, sementara untuk wapres sebesar Rp 42 juta perbulan. Merekapun masih mendapatkan tunjangan, rumah dinas, mobil dinas, dsb. Sementara gaji para menteri saat ini memanglah tak seberapa, hanya sekitar 5 jutaan. Namun mereka mendapat tunjangan dan dana taktis yang cukup besar.
Tunjangan yang diperoleh sebesar Rp 13.600.000 serta dana taktis Rp 150 juta perbulan yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. Para menteri pun masih mendapat mobil dinas dan rumah dinas, serta empat orang staff khusus dengan gaji per orang sebesar Rp 15 juta, sopir bergaji antara Rp 5-10 juta, ditambah fasilitas berupa pakaian senilai Rp 20-25 juta.
Ketika para pejabat sudah hidup mewah, lain halnya dengan rakyat kecil yang tetap melarat meski sudah berkali-kali mereka memilih pemimpin baru. Menurut data BPS bulan Maret 2009, saat ini terdapat 32,5 juta penduduk miskin Indonesia dengan penghasilan kurang dari Rp 6.675/hari.
Termasuk diantaranya sebagian pegawai honorer dan pegawai negeri sipil. Namun, jika yang dipakai adalah standard Bank Dunia, dimana penduduk dikatakan miskin jika penghasilannya tidak lebih dari 2 dolar perhari maka akan ada 100 juta lebih rakyat miskin di Indonesia.
Tak cukup sampai disini, rakyat miskin pun masih dibebani oleh tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, banyak anak yang terpaksa putus bahkan tidak bisa sekolah, banyak rakyat yang dipersulit dan ditelantarkan oleh rumah sakit karena ketiadaan biaya.
Harga kebutuhan pokok yang terus melonjak hingga tak terbeli sehingga sebagian rakyat terpaksa makan nasi aking, makan jamur liar sehingga keracunan, bahkan ada yang kekurangan gizi dan menderita busung lapar.
Dibangun atas Presfektif Demokrasi
Demokrasi yang terkenal dengan prinsip kedaulatan rakyat serta slogan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” sekilas cukup menjanjikan kesejahteraan dan kemajuan, apalagi jika diterapkan di Negara yang mayoritas penduduknya miskin seperti Indonesia. Bagaimana tidak, demokrasi memberi peluang kepada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya, menyalurkan keinginan dan tujuan hidupnya, termasuk untuk mendapatkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan kehidupan.
Rakyat juga diberi peluang untuk memilih dan dipilih sebagai pemimpin dalam upaya merealisasikan aspirasi dan keinginan masyarakat banyak. Dan yang terakhir, masyarakatlah yang akan merasakan hasil-hasil dari realisasi aspirasinya. Semua itu adalah karena rakyat yang memiliki kedaulatan, rakyat yang berhak menentukan nasibnya sendiri.
Demokrasi juga mengambil konsep trias politika, dimana kekuasaan dipisahkan antara legislatif (pembuat Undang-undang), eksekutif (pelaksana Undang-undang), serta yudikatif (lembaga peradilan). Ketiganya merupakan lembaga independen dan meminimalkan munculnya tirani penguasa yang akan merugikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Sungguh demokrasi terlihat sempurna sebagai sebuah panduan kehidupan bernegara.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aspirasi memang berasal dari rakyat, begitu juga dengan pemimpin yang memang dipilih oleh rakyat. Akan tetapi, untuk menyalurkan aspirasi dan memilih pemimpin tidaklah mudah dan murah. Rakyat harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk itu. Rakyat harus menyelenggarakan pemilu dengan biaya yang mahal, dan bahkan kadang harus diulang karena ada dugaan kecurangan serta ketidakpuasan dari salah satu kandidat.
Sebagaimana yang terjadi di Pilkada Jatim tahun lalu. Para kandidat pun masih harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk biaya kampanye serta untuk memuluskan mereka melangkah ke kursi jabatan. Walhasil, karena sudah mengeluarkan uang untuk mendapat jabatan, mereka pun menginginkan balik modal ketika berkuasa. Sementara urusan rakyat menjadi nomor sekian. Itulah, demokrasi memang system yang boros dan korup.
Demokrasi juga menyuburkan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha. (pemilik modal). Para pengusaha inilah yang selanjutnya menguasai ketiga lembaga Negara demokrasi, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Tak bisa dipungkiri bahwa sumber dana kampanye kandidat-kandidat pemilu salah satunya berasal dari pengusaha. Yang pastinya tidak gratis alias harus ada balas jasa dari kandidat yang berhasil menjadi penguasa, yang berupa kebijakan-kebijakan yang memuluskan bisnis mereka. Para pengusaha inilah yang sebenarnya menjadi sumber aspirasi dalam demokrasi.
Sudah banyak Undang-undang yang dibuat dengan mengatasnamakan rakyat tapi justru mangabaikan kepentingan rakyat. Sudah banyak kebijakan yang dibuat pemerintah hanya menguntungkan kaum korporat. Kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat juga tidak bisa dijerat dengan hukum, karena lembaga yudikatif dapat dengan mudah disuap untuk menutup mata atas pelanggaran eksekutif. Jadilah Negara ini Negara penguasa dan pengusaha, Negara birokrasi dan korporasi. Dan yang merasakan “nikmatnya” demokrasi hanyalah penguasa dan pengusaha, bukan rakyat.
Bertentangan dengan Syariah
Pertama, demokrasi merupakan sistem yang batil dan kufur. Dia lahir dari asas sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang merupakan jalan tengah untuk mengatasi perselisihan yang berlarut-larut antara pihak gereja dan para cendekiawan barat pada abad pertengahan. Demokrasi dengan prinsip kedaulatan rakyatnya telah menimbulkan bencana baru bagi manusia. Akal manusia yang serba terbatas dijadikan sebagai tuhan dan diberi wewenang untuk mencari penyelesaian masalah bagi kehidupan manusia.
Sehingga wajar dalam system demokrasi undang-undang sering diubah-ubah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan tidak ada standard baku mengenai baik buruk atas perilaku manusia. Karena kedaulatan di tangan rakyat pulalah parlemen dan eksekutif dapat dengan mudah mengubah undang-undang sekehendak hatinya untuk melegalkan pengabaian urusan rakyat, tentunya selama hal ini memberi keuntungan materi maupun politis kepada penguasa.
Selama system ini diterapkan, tidak ada jaminan bahwa orang-orang di dalamnya akan terbebas dari penghambaan terhadap manusia lainnya. Sudah terbukti, bahwa ketika uang bicara, apa saja bisa dipesan, siapa saja bisa dibeli.
Berbeda halnya dengan Islam yang merupakan satu-satunya ideologi Illahiyah, yang berasal dari Dzat yang Maha Sempurna. Islam menetapkan bahwa kedaulatan ada di tangan syara’, bukan di tangan manusia. Dan tidak seorang pun berhak bersekutu dengan Allah, Sang Pemilik Kedaulatan, dalam menetapkan undang-undang. Allah swt berfirman:
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS al An’am [6]: 57).
Selain itu, Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil apa saja yang dibawa oleh Rasulullah SAW kepada kita dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya.
“Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian, laksanakanlah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah” (QS al-Hasyr [59]: 7).
Dengan demikian, syariah menjadi patokan baku atas perbuatan manusia dalam kehidupan dan akan selalu relevan dengan perkembangan zaman. Sehingga penguasa yang melalaikan urusan rakyat bisa dihentikan kedzalimannya, baik dengan cara muhasabah (mengoreksi penguasa) maupun diseret ke pengadilan dan diberhentikan dari posisinya. Karena kedaulatan ditangan syara’ pulalah jual beli undang-undang bisa dihapuskan. Sehingga manusia benar-benar hanya menghamba kepada Allah semata dan menyelamatkan manusia dari siksa di akhirat kelak.
Kedua, menumbuhsuburkan penguasa tiran. Demokrasi secara faktual merupakan alat para pemodal untuk memuluskan bisnisnya. Sehingga tidak mengherankan bila para penguasa berdiri di garda terdepan untuk membela kepentingan para kapitalis tersebut. Mengingat para kapitalis lah yang menjadikan mereka berkuasa.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan tuntunan Islam, dimana jabatan/kekuasaan adalah amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak, sehingga bukanlah posisi yang layak diperebutkan dengan penuh ambisi. Penguasa juga merupakan pelayan yang harus siap memenuhi segala keperluan rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda:
Imam (pemimpin) adalah pelayan, maka dia bertanggungjawab terhadap terhadap urusan rakyatnya” (HR Imam Ahmad dan Bukhari).
Oleh karena itu, para penguasa dituntut usaha maksimalnya dalam pengurusan rakyat. Ketika penguasa berlepas diri dari pelayanan terhadap rakyat maupun berpihak pada segelintir konglomerat, maka hal ini merupakan pengkhianatan sekaligus pengingkaran terhadap tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
“Pengkhianatan yang paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya” (HR ath-Thabrani).
Ketiga, melanggengkan agenda penjajahan asing. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kenaikan gaji pejabat adalah upaya terselubung untuk membungkam kekritisan pejabat terhadap kebijakan pemerintah selama lima tahun mendatang yang dipastikan akan lebih liberal daripada sebelumnya, seperti peningkatan privatisasi, menambah utang luar negeri, yang memang sudah dirancang sedemikian rupa melalui UU yang disahkan oleh DPR periode lalu.
Apalagi, dengan melihat komposisi kabinet Indonesia Bersatu II yang mempertahankan wajah-wajah lama pro neolib dan memunculkan wajah baru pesanan asing. Pastinya Indonesia akan semakin tunduk pada agenda panjajahan Barat.
Islam melarang setiap jengkal upaya kaum muslimin untuk menjerumuskan diri pada cengkeraman orang-orang kafir, baik berupa keberpihakan pada kepentingan asing maupun menyerahkan urusan kita sesuai dengan arahan asing. Allah berfirman:
“Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum mukmin” (QS an-Nisa’ [4]: 141).
Dengan demikian, kebijakan pemerintah untuk menaikkan gaji para pejabat negara tidak akan membawa perbaikan pada nasib rakyat dan justru akan membuat rakyat semakin menderita.
Wallâh a’lam bi ash-shawâb
Nurwati; Ibu rumah tangga & aktivis dakwah, Tinggal di Citayam-Bogor
Sabtu, 21 November 2009
The World New Order?
Semoga Allah Swt selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada Antum sekeluarga. Amien. Pertama-tama saya ingin mengajak Anda untuk menutup mata. Buang semua teori yang ada. Kosongkan pikiran. Dan buka mata Anda kembali. Lihatlah sekeliling. Apa yang Anda lihat dan rasakan?
Anda akan melihat jika hampir semua kebijakan negara di dunia ini telah ikut dan tunduk pada Grand-Design The New World Order, termasuk Saudi Arabia yang dikatakan sebagai Khadimatul Ummah. Indonesia, sebagai negeri mayoritas Muslim dunia (setidaknya dalam Kartu Tanda Penduduk), sejak lama hingga detik ini sedang dikangkangi oleh kekuasaan Neo Liberal yang secara bulat mengabdi dan tunduk pada The New World Order yang memiliki hampir seluruh badan-badan dunia seperti PBB, IMF, World Bank, G7, G8, G20, Trilateral Commission, RIIA, Bilderberger, dan sebagainya. Semua Neolib dan para kroninya merupakan salah satu budak kekuatan Zionis-Yahudi yang tengah membangun The New World Order seutuhnya.
Umat Islam sekarang ini adalah umat yang dalam hal penguasaan teknologi dan hegemonik dunia dalam posisi kalah atau Underdog. Sebab itu kita seringkali bersikap reaksioner dalam menghadapi ancaman-ancaman dan strategi lawan, dan ini tentu tidak sehat. Adalah fakta jika kita sekarang ini adalah umat yang jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah, walau tidak semuanya. Bahkan banyak dari orang-orang yang mengaku sebagai “tokoh umat” malah melacurkan diri kepada kaum liberal yang nyata-nyata merupakan budak-budak Dajjal (Luciferian) di mana Zionis-Yahudi sebagai panglimanya.
Sampai sekarang, kebangkitan Islam yang sering digembar-gemborkan itu hanyalah sebuah mimpi indah, namun masih sangaaaat jauuuh untuk merealisasikannya. Kebangkitan Islam sekarang ini hanya tampak pada kulitnya saja, namun belum menyentuh esensi dari Islam itu sendiri. Tidak percaya? Satu contoh sangat kecil: Islam Jelas dan Tegas Mengharamkan Riba. Nah, sudahkah kita bebas dari riba? Yang ada malah bank-bank ribawi ini menipu kita semua dengan ikut-ikutan mendirikan cabang yang diberi label “Syariah” padahal itu cuma akal-akalan pengusaha saja untuk menipu kita.
Lalu soal sistem kenegaraan, Islam jelas-jelas memberikan Syuro sebagai sistem yang benar. Tapi sekarang sistem demokrasi sebagai sistem yang berasal dari sistem Yahudi di masa kekuasaan 12 Pendeta Yahudi di Palestina (Masa Raja-Raja), 400 tahun sebelum Plato lahir—sebab itu disebutkan jika Demokrasi sesungguhnya adalah “Sunnah Yahudi”—malah diikuti dan diterima sebagai sebuah sistem yang benar. Akibatnya, banyak tokoh umat yang ikut-ikutan dengan sistem Dajjal ini berubah total. Yang tadinya memegang teguh Islam sebagai pandangan hidupnya, Islam mengalir dalam darahnya, kini sekadar menjadikan Islam sebagai kulitnya. Yang lebih parah, Islam dan umatnya malah dijadikan komoditas menjelang pemilu, alat untuk jual-beli, dan setelah itu segera dilupakan.
Ini semua adalah fakta. Pahit memang, tapi al-haq tetaplah al-haq. Dan al-haq sama sekali tidak bisa bermusyarokah dengan al-bathil. Sebagaimana uang hasil jual-beli anjing tidak bisa dipakai untuk membangun masjid.
Adalah fakta jika sekarang ini The New World Order nyaris terbentuk dengan sempurna. Bagaimana dengan Kekhalifahan Islam? Masih sangat jauh. Walau mungkin saja sudah sangat dekat hanya dengan pertolongan Allah SWT. Amien.
Di hari akhir nanti, tidak ada yang namanya penyatuan agama samawi. Islam adalah agama satu-satunya yang diridhoi di sisi Allah SWT. Hanya Islam, bukan yang lain. Inilah akidah yang benar dan lurus. Di hari akhir nanti, semua manusia yang masih berada di luar Islam akan diseru untuk kembali kepada agama fitrah ini. Nabi Isa a.s. yang turun kembali ke bumi akan mengajak umatnya untuk kembali ke jalan Islam sebagai agama fitrah. Semua manusia yang menerima Islam sebagai fitrahnya akan meninggal dunia saat angin lembut bertiup dari Yaman. Sampai disitulah umur umat Islam. Hanya sampai disitu. Setelah kaum Muslim semua meninggal dunia dengan tenang, dunia hanya diisi oleh kaum kufar dan seluruh dunia diliputi kekacauan yang dahsyat hingga datangnya hari kiamat yang jauh lebih dahsyat ketimbang apa yang diperlihatkan dalam film 2012. Jadi umat Islam tidak akan mengalami hari kiamat yang mengerikan itu. Silakan baca Hadits Riwayat Muslim Bab Dzikru-Dajjal 18:70.
Tentang buku karya Jaber Bolushi tentang datangnya Imam Mahdi di tahun 2015 saya enggan memberi komentar karena isinya, walau banyak dihiasi dengan kutipan ayat-ayat Qur’an dan hadits, namun berasal dari paradigma Abdullah bin Saba’, Yahudi dari Yaman itu. Demikian juga dengan semua buku Wang Xiang Jun (Pustaka Solomon) yang walau pun judulnya sangat bombastis, namun isinya jauh dari kehebatan judulnya. Bahkan tulisan saya tentang hari kematian Soekarno di RSPAD pun pernah dicopy-paste utuh begitu saja tanpa menyebut sumber dan tanpa izin. Kedua buku tersebut tidak ada gunanya dibahas.
Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.
Eramuslim.com